Beberapa minggu ini, aku merasakan sebuah perasaan di mana kisah ini terulang kembali, seperti deja vu yang mana memiliki perasaan yang seperti dengan keadaan masa lampau. Bukan tentang kisah pertemuan kita yang hanya fana, atau kisah ketika kita duduk berdua di taman sekolah (TIDAK ADA!?) Ini adalah kisah di mana peristiwa tersedih yang pernah terjadi di tahun-tahun yang lalu.
Aku ingat, kala itu banyak perpisahan yang terjadi di tahun dua ribu enam belas. Tepat aku belum merasakan namanya sweet seventeen.
Orang-orang di sekitar bahkan yang kukenal lama, telah berpulang ke hadirat Allah Subhanahu wa Ta'ala. Allah menyayangi orang-orang tersebut, dari tetangga yang merupakan pakdhe, dua orang yang amat aku sayangi, dan orang-orang yang selalu meramaikan rumah. Aaah, waktu itu atau bahkan tahun itu merupakan tahun kepedian dan untuk pertama kalinya aku merasakan perpisahan yang benar-benar tanpa jumpa lagi.
Benar kata kumpulan quotes yang terlampir pada beranda facebook. Terutama dari akun bertuliskan nama "Tere Liye", penulis yang aku sukai pada jaman sekolah dulu. Ada kalimat yang kuingat, bahwa cara menguji besarnya cinta itu ketika datangnya sebuah perpisahan, misalnya kepergian orang-orang menuju alam yang nyata, yaitu akhirat.
Aku mencintainya. Aku menyayanginya. Seandainya... Apabila.... dan banyak lagi kata-kata yang sebenarnya sudah terlambat. Aaahh, TIDAK!? Semua tidak pernah terlambat bagi kita untuk menyatakan perasaan itu dengan mendoakannya.
Aku sadar saat melihat berbagai macam perpisahan itu. Aku melihat orang yang tegap membusungkan dadanya. Orang bijaksana dan tampak keras dari luar. Nyatanya, saat orang yang ia cintai harus kembali ke Mahakuasa, ia menjadi lemah, rapuh, dan bahkan air mata yang ia sembunyikan selama ini harus jatuh melimpah menangisi kekasihnya itu.
Aku juga melihat bahwa firasat seorang adik sangat kuat, ketika kakaknya yang jauh di sana, kakak yang tak pernah ia jumpai dan hanya berkabar suara setahun dua kali, mungkin. Ia bisa merasakan bahwa sesuatu tidak baik-baik saja. Ya. Pagi yang dingin menusuk, saat adzan shubuh usai berkumandang, sebuah telpon berbunyi mengabarkan bahwa sang kakak telah tiada.
Mungkin kisah itu, sudah lama berlalu dengan waktu dan kesibukan mulai menumpuk. Kali ini, hal itu terjadi. Orang-orang yang baru aku jumpai, Allah panggil dia untuk menghadap-Nya. Bulan demi bulan, seseorang pun tiada bahkan kini manusia tua itu harus menjadi sendiri, karena belasan saudaranya sudah kembali ke tanah. Ia sendiri. Sesosok kakak satu-satunya yang masih hidup di dunia, harus menyusul saudara-saudara yang lain. Dan semoga yang terakhir ini, aku melihat orang yang selalu kukenal cerewet, lucu, dan aktif kini harus mengalami kesedihan yang sama. Anak tunggal yang tersayang telah tiada. Bagaimana mungkin? Namun, tak ada yang bisa melawan takdir, bukan? Kita hanya bisa mendoakan dan melakukan kebaikan dengan ikhlas untuk amal bagi orang-orang yang tersayang.
Padahal, baru beberapa hari aku ingin bersua mengenai pengalaman pertamaku merangkai bunga untuk orang yang meninggal. Ya. Itu dengan perempuan yang kehilangan putra. Alangkah sedihnya, saat kita bercanda gurau kala merangkai bunga, kini dia bersedih melihat manusia-manusia lain merangkai bunga layaknya beberapa hari yang lalu.
Dunia itu benar-benar misteri. Semesta selalu saja memberikan kita kejutan-kejutan yang tak pernah dilampaui akal kita. Mungkin, ini adalah kisah yang ditulis oleh manusia normal dan belum pernah merasakan kehilangan yang lebih. Jika manusia normal ini mengalami kesedihan yang membuatnya rapuh, ingatlah bahwa semua kejadian ada hikmahnya. Allah selalu memberikan ujian yang insyaallah pasti manusia itu bisa lalui. Kehilangan seseorang itu, bukan karena Allah membenci kita, melainkan Allah lebih menyayangi hamba-Nya, dan meminta kita untuk selalu ingat kepada Allah usai kejadian itu. Menangislah, namun tidak berlebihan. Karena kita tahu, bahwa banyak orang di luar sana yang lebih pantas untuk menangis, tapi ia lebih memilih tabah, ikhlas, dan berjuang.
Kisah ini terulang kembali dengan kesedihan yang sama terhadap orang-orang terdekat. Bahkan kita harus sadar juga, bahwa orang lain juga mengalami yang sama. Karena kita sama, yaitu manusia.
-Airira-
Komentar
Posting Komentar