Langsung ke konten utama

PENGALAMAN MENGUNJUNGI DESA TEMPAT KKN - SURVEI

Sudah lama sejak tahun dua ribu delapan belas aku tidak bersua. Masa mahasiswa baru itu, kini sudah berlari kencang dan menuju titik ke mahasiswa (hampir) tua.

KKN sudah menyapa. Seraya mengatakan bahwa, "Sudah waktunya kau buka mata!!"

Sudah semester enam, dan aku masih menjadi orang yang sama. Manusia yang berpaku pada tenangnya rumah dan sepinya kamar. Namun kini, aku kudu keluar dari zona nyamanku, terutama semenjak sang virus korona yang menyerang dengan syarat, yaitu harus mematuhi protokol kesehatan dan di rumah saja.


Kata #dirumahsaja mengantarkanku pada benar-benarnya diriku. Bahwa aku sungguh manusia kebluk yang tidak bisa bangun dari kasur yang kuat tekanannya. Aku manusia yang bisa seharian tidak memandang cahaya matahari di luar rumah, dan bahkan manusia yang bisa beberapa hari tak jenuh melakukan aktifitas di dalam rumah.


Nyatanya, KKN ini akan membuatku kurang lebih keluar dari zona nyaman itu. Aku harus bertemu orang-orang baru, masyarakat baru, dan bahkan skill baru yang harus aku kuasai secara mendadak.

Hari ini, tanggal sepuluh juni dua ribu dua puluh satu, Aku untuk pertama kalinya ikut survei KKN program Pulang Kampung. Sebenarnya, sudah beberapa kali teman-teman itu pergi, hanya saja kelas selalu datang di saat yang tepat. Oh, seharusnya tidak tepat, ya? 


Aku terkejut pagi ini, saat serentetan pesan memenuhi grup KKN itu, bahkan grup divisi yang kuikuti pun sudah terisi akhirnya di pagi itu. Kubuka grup divisi yang berisi ajakan untuk mengadakan rapat, dan saat kubuka grup KKN, isinya akan diadakan pertemuan dengan pak inggi  dan perangkat desa lainnya.  Pagi itu, seakan ada petir di siang bolong, karena pagi tenang itu harus kuhadapi dengan my overthinking.

Kukabari salah seorang temanku untuk memberikan kabar (suka/duka) ini. Aku sungguh ingin bergabung, karena kini saatnya aku bisa bertemu dan berkenalan dengan teman-teman baru dan lokasi desa. Akan tetapi, petir kembali menyambar di sore lobang. Temanku ini tidak bisa ikut. 

Akhirnya aku berpacu dengan segala pikiran-pikiran burukku. "Apakah aku bisa sampai sana?" atau "Apakah aku bisa berteman dengan mereka?" serta "Apakah aku baik-baik saja?"


Ahh, pertanyaan-pertanyaan yang tak ada jawabannya itu terus mengalir di seluruh rongga isi kepala. Namun, aku mengingat kembali kejadian lama yang aku alami. Kejadian yang mana aku pernah sendiri dalam sebuah forum, tak kenal siapa-siapa awalnya, tapi nyatanya.....



Baca dulu sampai selesai yak! wkwk




Aku janjian sama temanku yang lain. Dia bilang, kalo dia akan ke lampu merah pas jam set 10. Aku cukup tenang ada temannya, yaitu dia. Tapi, nyatanya aku berangkat dari rumah jam 9 dan harus beli paketan. Aku berangkat tergesa-gesa. Ngebut. Aku lihat 60 km/jam lebih sedikit. Mungkin itu adalah pertama kalinya juga aku melakukan hal itu.


Dalam perjalanan aku mengalami berbagai macam gejolak pikir. "Dasar manusia telatan!! (Andai itu teladan) Sudah tahu anak baru survei, sok-sok an datang mepet. Gimana kalo kamu ditinggal? Emang kamu tahu lampu merah yang dikasih tahu temanmu? Gimana kalo temanmu kecewa dengan tidak on time nya kamu?"


Aku pasrah saat dia meninggalkanku. Aku sampai memarahi diriku sendiri di kala mataku sibuk menghindari motor dan mobil. Aku sangat multitasking hanya dalam hal itu. Syukurlah, ternyata aku tahu tempat lampu merah yang ia tuju dan aku bertemu dengannya serta teman-teman lain yang baru datang. Saat di jalan, mereka mengebut yang aku sebenarnya (dalam keadaan sadar) tidak bisa melakukannya. Karena kepalaku dipenuhi rasa "tak mau tertinggal", akhirnya aku ngebut juga.


Pada suasana balai desa bertemu para petinggi desa dan mengobrol akan proker desa. Seorang bapak bertanya mengenai jurusanku. Ah, pertanyaan itu selalu membuatku patah dan sedih. Aku selalu sedih dengan pertanyaan-pertanyaan yang lain, jika aku menjawabnya. Dan...

Byaaarr. Benar.

Jurusan ini memang selalu menjadi pandangan orang tertuju. Apalagi para petinggi itu ternyata jurusan PAI dan anak-anaknya bersekolah agama. I N S E C U R I T Y benar adanya.

Aku kembali membuka lembaran buku-buku ingatan tentang janjiku yang ingin terus belajar mengenai jurusan yang aku ambil. Tapi kembali lagi aku bergelut dengan peribahasa Nasi sudah menjadi Bubur. Syukurlah, aku bisa mengakhiri dengan cukup baik.

Usai survei, aku harus rapat divisi. Aku mendapat amanah masuk divisi acara. Aku dan teman baruku dari Suko pergi ke cafe tempat kami akan rapat. Di sana pun bertemu dengan teman lain yang berasal dari Klakah. Kami di cafe bernama Ogut dan kemudian ikut kawan lama organisasi SMA menuju ke sekret yang dulunya jualan seblak kesukaanku sama teman-teman KOS 80A (maybe, aku akan ceritakan kisah suka duka di sana juga)

Aku mulai cukup mengenal sosok teman dari klakah ini, dan teman-teman lainnya. Aku sudah bisa tertawa dengan mereka, meskipun bukan hal inti. Tapi Alhamdulillah, aku bisa mengenal mereka dengan baik. Aku merasa senang dan merasa bahwa pikiran burukku di awal itu, S A L A H. 


Dan berkali-kali aku bisa melewatinya.


Amanat Kisah ini :

  1. Tepat waktulah saat melakukan apapun agar hidup tenang dan tidak mengecewakan orang
  2. Jangan banyak memikirkan hal yang belum kamu lakukan, karena ada saatnya pertanyaanmu ada jawaban saat kau mengalami.

Good Job, Airira^^






Kamis, 10 Juni 2021

Di kamar bersama si Abu di atas meja merah

Komentar