Langsung ke konten utama

TERHENTI KARENA CEMETI MALAIKAT - KKN'S DAY 5

 Sore ini tampak mendung saat aku belum beranjak keluar dari gerbang rumah. Suara rintik terdengar, namun nyatanya hanya rintikan semu yang hanya menggoda agar diriku panik dibuatnya. Ayahku memintaku untuk diantarnya saja. Namun, kutolak karena inilah saatnya aku bisa menikmati turun hujan dalam perjalanan. 

Aaahh... Sudah lama sekali aku bergumul dengan hujan dan perjalanan. Teringat saat aku mengantar kawanku kembali ke pondoknya dengan akhir sebuah basah kuyup di seluruh pakaian. Dingin yang menusuk di tulang dan jiwa itu, seakan ingin aku rasakan kembali, meskipun akhirnya niat itu kuurungkan demi kesehatanku esoknya.

Aku berangkat dengan mengenakan jas hujan merah muda bertotol putih. Awalnya, kupikir tak perlu menggunakannya. Toh, ini hanya gerimis tipuan yang seakan semesta sedang melakukan prank seperti yang dilakukan manusia-manusia di bumi belakangan ini. 

Karena perintah seorang ayah, akhirnya kugunakan saja jas itu. Tak apa. Toh hanya jas hujan. Bukan sebuah pakaian aneh yang membuatku harus lari menuju ujung dunia. Ah, itu konyol, bukan?

Aku pergi dengan menggunakan jas merah muda itu dan melewati perjalanan dengan biasa saja.😐😐

Namun, saat di tengah perjalanan, kuberhenti sejenak di antara rumah-rumah dengan pemandangan sawah di depannya. Tempat di mana selalu kuanggap pantai usai datangnya lautan sawah-sawah dan ladang tebu.

Tidak ada hujan saat perjalanan. Semua hanya awan yang diwarnai Allah dengan warna abu-abu yang cukup gelap. Aku menjemput temanku dan .... 😱😱😱😰

Awal tetesan air mata bumi jatuh membasahi bumi, kota tempatku dibesarkan. Angin juga mengikuti tetesan hujan itu yang semakin lama, hujan deras membasahi setiap ujung tempat. Aku dan temanku memakai jas hujan. Saat di lampu merah usai kulewati geladak kakak (clue : sinonim kakak / bahasa jawa dari merah), aku melihat cemeti malaikat di langit. Itu lebih menakutkan dibanding hujan deras saja.

Semakin berjalan menyusuri jalanan berombak itu, kilatan dari cemeti malaikat masih terdengar dan bahkan tampak di lihat mata. Itu sangat tidak baik untuk melanjutkan perjalanan. Akhirnya, aku dan temanku segera berteduh di sebuah toko dealer yang sedang tutup. Di sana kami berteduh dan membaca whatsapp yang mana teman-teman kami juga mengalami hal sama, yaitu berteduh sementara dan belum melanjutkan ke lokasi desa.

Beberapa kali, aku dan temanku mendengar suara cemeti malaikat itu dengan suara yang menggelegar dan mengejutkan kami. Apalagi tangan kami yang masih beberapa kali menggeser layar handphone untuk memeriksa keadaan di grup.

Kami memandangi hujan, beberapa kali bernyanyi, dan bercerita. Mungkin hampir sekitar satu jam kami menunggu di sana. Dan, teman-teman memutuskan untuk membatalkan acara, karena di desa pun juga dalam keadaan yang sama. Bahkan lima teman KKN juga sudah sampai dan terjebak di balai desa di desa tersebut.

Akhirnya, usai berita pembatalan, aku akhirnya pulang ke rumah. Tak jadi menitipkan sepedaku kepada temanku itu. 


Aku melihat bulan dalam mataku :)


Pesan untuk Hari Ini :

1. Rencana yang disiapkan matang pun akan luluh lantak jika Allah sudah menakdirkan

2. Setiap hal yang kita anggap buruk mungkin ada hikmah dibaliknya (atau ada doa orang yang dikabulkan Allah lebih dahulu)


Hammasah, Airira


Selasa, 15 Juni 2021

Di perasaan penghabisan segala melaju (sebuah baris dari puisi chairil anwar)


Komentar

Postingan populer dari blog ini

PENGALAMAN MENGUNJUNGI DESA TEMPAT KKN - SURVEI

Sudah lama sejak tahun dua ribu delapan belas aku tidak bersua. Masa mahasiswa baru itu, kini sudah berlari kencang dan menuju titik ke mahasiswa (hampir) tua. KKN sudah menyapa. Seraya mengatakan bahwa, "Sudah waktunya kau buka mata!!" Sudah semester enam, dan aku masih menjadi orang yang sama. Manusia yang berpaku pada tenangnya rumah dan sepinya kamar. Namun kini, aku kudu keluar dari zona nyamanku, terutama semenjak sang virus korona yang menyerang dengan syarat, yaitu harus mematuhi protokol kesehatan dan di rumah saja. Kata #dirumahsaja mengantarkanku pada benar-benarnya diriku. Bahwa aku sungguh manusia kebluk yang tidak bisa bangun dari kasur yang kuat tekanannya. Aku manusia yang bisa seharian tidak memandang cahaya matahari di luar rumah, dan bahkan manusia yang bisa beberapa hari tak jenuh melakukan aktifitas di dalam rumah. Nyatanya, KKN ini akan membuatku kurang lebih keluar dari zona nyaman itu. Aku harus bertemu orang-orang baru, masyarakat baru, dan bahkan ski...